Minggu, 11 Juni 2017

sHE [TeenLit]

Alohaaa predator buku!

Duh aduh berhubung gak ada buku baru yang bisa dilahap. Gak masalah kan yak kalo sesekali berbagi buku lama yang saya lahap ulang. Sebuah novel bergenre Teenlit. Novel yang sudah cukup lama nangkring diantara koleksi buku-buku saya. Dan baru sekarang mendapat kesempatan untuk direview.

Awalnya saya gak begitu suka dengan novel ini. Tapi setelah saya baca ulang, kok isinya berubah menjadi lebih menarik. Mungkin dulu saya bacanya asal-asalan aja, yang penting tamat. Jadi gak dapet feel-nya. Mungkin aja sih. Nah, karena lagi haus bacaan, gak punya pilihan lain, baru deh kerasa gregetnya novel ini. Pelajaran nih, lain kali gak boleh baca buku sekenanya aja. Harus benar-benar diresapi supaya dapet intisarinya. Halaaaah. Ngomong apaan sih ^^     

Here is it, sHe, sebuah novel teenlit karya Windhy Puspitadewi.

Judul buku : sHe
Penulis : Windhy Puspitadewi
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN : 978-602-03-1794-6
Kategori : Fiksi – Teenlit
Tebal : 242 halaman
Tahun: 2007

Lahap hap hap …

Dhinar dan Dinar bukan saudara kembar. Kebetulan saja nama mereka mirip, hanya terpaut huruf “h”. Dan keduanya sangat bertolak belakang, baik dari sisi sifat, pola pikir, dan latar belakang kehidupan. Hanya terdapat satu kesamaan diantara mereka berdua, kedua merupakan penggila manga dan anime. Ya, manga dan anime lah yang akhirnya mempertemukan Dhinar dan Dinar. 

DHINAR seorang gadis pendiam, kutu buku, sinis, tertutup namun memiliki tingkat kecerdasan yang tinggi. Hidup dalam keluarga yang begitu ketat dalam urusan sekolah. Orang tua Dhinar ingin anak-anaknya mengenyam pendidikan setinggi-tingginya. Dhinar anak terakhir dari tiga bersaudara. Kakak pertamanya perempuan dan kakak keduanya laki-laki. Lira dan Real.

Sejak masih duduk di bangku SD, mereka bertiga sudah diharuskan ikut berbagai macam les. Lira kuliah di Barkeley University sedangkan Real di ITB. Tentu orang tua Dhinar bangga akan prestasi yang dicapai kedua anaknya. Dhinar pun diharapkan mampu menyamai atau bahkan melebihi prestasi kedua kakaknya itu.

Orang tua Dhinar menetapkan peraturan: Nggak boleh main Playstation! Nggak boleh nontov TV di atas jam delapan malam! Nggak boleh baca komik! Pokoknya harus belajar!  

Untuk peraturan terakhir, terlalu berat bagi Dhinar yang sejak kecil suka komik. Pada dasarnya Dhinar memang suka membaca buku, apa pun itu, berat ataupun ringan. Namun yang paling dia sukai tetap komik! Pertama kali kenal komik dari teman yang meminjamkan Doraemon ketika SD dulu. Dhinar benar-benar terpesona dengan Doraemon. Sejak saat itu dia jadi penggila komik. Karena ketahuan orang tuanya, Dhinar selalu membeli dan membaca komik secara sembunyi-sembunyi.
DINAR seorang gadis periang. Pengagum berat Ayumi Hamasaki, diva nomor satu di Jepang. Selain mengoleksi semua kaset dan benda lain yang berhubungan dengan Ayumi, Dinar juga pengikut setia tren yang dipopulerkan



Akankah Liana berhak mendapatkan kisah cinta sempurna seperti yang selalu ditulis dalam novel-novel larisnya? 
          
Kalimat Favorit

Nggak ada yang bisa menggantikan siapa pun. Itulah sebabnya setiap orang unik, berguna, dan berhak dilahirkan dan merasakan yang namanya hidup (sHe, hal 76).

Nggak usah susah-susah mikirin apa efeknya di masa depan, yang penting nikmati hidupmu sekarang because it’s what being human is all about (sHe, hal 101).

Manusia tuh punya kebutuhan untuk bersosialisasi. Itulah sebabnya manusia disebut homo homini socius  (sHe, hal 120).

Lu memang mesti ngerasain sakit sebelum bisa ngerasa arti senang yang sebenarnya. Itulah hidup! Orang baru bisa naik sepeda setelah jatuh berkali-kali, …  (sHe, hal 121).

Kalau kita aja pengin bahagia, kenapa kita harus mencegah orang yang mau bahagia? (sHe, hal 131).

Jika ingin menikmati hidup, jangan takut mengambil risiko. Bagaimanapun hidup ini penuh kejutan dan entakan  (sHe, hal 132).

… jangan pernah menilai seseorang sebelum kamu berbicara dengannya  (sHe, hal 209).

Yang namanya pasangan, harus bisa melengkapi satu sama lain. Menutupi kekurangan pasangan dengan kelebihan yang  kita miliki. Ibaratnya hati yang terbelah dua, ada sisi kiri dan sisi kanan. Kalau sama, hanya akan menghasilkan dua sisi kiri atau dua sisi kanan. Tidak akan punya arti apa pun  (sHe, hal 220-221).

Setiap pertempuran pasti ada yang menang dan kalah. Tapi usaha yang telah kita lakukanlah yang menentukan apakah kita layak disebut pahlawan atau tidak  (sHe, hal 232).

Review Saya

Kreatif! Kenapa saya mengatakannya karena, dari hal yang begitu sederhana. Perbedaan penulisan nama Dhinar dan Dinar namun penulis dapat menyajikan cerita yang manis. Ada beberapa istilah yang menggunakan bahasa Jepang namun tetap dijelaskan sehingga saya gak mengalami yang namanya “gagal paham”.

Meski novel bergenre teenlit namun tetap cocok dibaca orang dewasa. Banyak pembelajaran yang bisa diapat ketika membaca novel ini  Dan satu lagi, saya suka karena gak ada adegan yang terlalu vulgar sehingga masuk dalam kategori layak dibaca para remaja yang masih menjadi jati diri.

Dari segi ketelitian editing, nyaris tidak ada typo. Hanya menemukan satu. Pada kata terseyum di halaman 125. Itu saja. Dan hebatnya lagi , saya gak menemukan kesalahan dalam penulisan nama Dhinar dan Dinar. Padahal rentan banget terjadi kesalahan ketik, karena hanya berbeda pada huruf “H” saja. Two thumbs up!
      
Pesan Moral

Novel ini mengingatkan saya untuk menjadi diri sendiri meski banyak orang yang menentang. Dengan begitu saya bisa menjalani hidup dengan bahagia.   




Salam cinta,
~RP~       

Tidak ada komentar:

Posting Komentar