Jumat, 05 Mei 2017

Forever with You [Amore]


Alohaaa predator buku!

Setelah cukup lama menghilang, hari ini saya kembali untuk berbagi buku yang baru aja selesai saya lahap. Sebuah novel bergenre Amore. Sebenarnya novel ini sudah cukup lama pingin saya miliki. Ketika itu, saya sedang halan-halan ke blog buku seorang book blogger (tapi lupa siapa). Di blog tersebut sedang diadakan giveaway yang berhadiah novel ini. Didorong rasa pingin memilikinya hati kamu, saya pun gak mau ketinggalan untuk ikutan adu keberuntungan. Tapi sayang Dewi Fortuna belum berpihak kepada saya. Harapan untuk memiliki novel itu hilang bersama diumumkannya nama pemenang. Saya belum beruntung! Tapi gak apa-apa deh, namanya juga usaha, ucap saya untuk menghibur diri.

Berhubung tempat tinggal saya jauh dari toko buku, sementara saya masukkan aja dulu novel ini ke wish listed book. Berharap suatu saat bisa memiliki novel berjudul, Forever with You, karya Ria n. Badaria ini. Daaaan ... setelah sekian lama penantian, novel ini pun akhirnya bisa saya miliki. Ada yang penasaran kenapa saya kok bisa suka novel ini? Ada dua alasan. Pertama, ehm … karena kisah sang tokoh utama sedikit nyerempet a.k.a mirip dengan kisah kehidupan saya saat ini. Istilahnya senasib getoooh. HAHAHA. Lalu yang kedua? Rahasiaaa ah *senyum misterius* Malu saya mah ngasih taunya.

Udah, kamu jangan manyun gitu. Mending kita mulai aja melahap novel ini …

Judul buku : Forever with You
Penulis : Ria N. Badaria
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN : 978-602-03-2867-6
Kategori : Fiksi – Amore
Tebal : 272 halaman
Tahun: 2016

Lahap hap hap …

Liana Sanjaya, penulis novel fiksi romantis yang di sampul depan setiap novelnya dibubuhi cap Best Seller, fakta yang seharusnya membanggakan. Sayang, hal yang membanggakan itu sama sekali tidak berguna ketika ia harus mencari pasangan di usia yang ke-29 tahun.

Melajang di usia hampir 30 tahun nyatanya bukan hal menyenangkan dan mudah untuk dijalani. Usia yang menurut kebanyakan orang hampir memasuki usia kadaluarsa bagi seorang wanita untuk menjadi lajang. Terlebih jika dilahirkan oleh seorang ibu yang tumbuh di keluarga besar yang mengganggap lewat dari usia 25 tahun, seorang wanita sudah harus menikah dan punya anak.

Kapan nyusul? Mana pasangannya? Pertanyaan yang kerap kali membuat Liana jengah ketika menghadiri acara pernikahan. Untuk wanita lajang di usia nyaris tiga puluh tahun, acara pernikahan memang selalu menjadi tempat paling mengerikan!

Rinto Ardianto. Berusia 28 tahun, berkarier sebagai fotografer lepas, lebih sering mengerjakan pemotretan untuk majalah-majalah fashion terkemuka. Sahabat Liana sejak kecil. Keluarga mereka sudah seperti saudara meski tanpa ikatan darah. 

Bagi Liana, Rinto merupakan zona nyaman tempat ia bebas meluapkan semua hal yang dirasakan. Ia bisa tertawa, marah, dan menangis di hadapan Rinto. Selalu seperti itu sejak mereka kecil. Ia selalu merasa ada yang kurang dalam hidupnya jika Rinto tidak berada di dekatnya untuk mendengarkan semua cerita hidupnya.

Rinto tertawa keras ketika Liana selesai bercerita tentang perjodohan yang lagi-lagi gagal. “Lu emang harus diruwat, supaya aura negatif dalam diri lu hilang”, kata Rinto masih tertawa.

Menyedihkan, hanya sata kata itu yang bisa Rinto pakai untuk menggambarkan percintaan Liana. Sejak remaja, Liana memang selalu mengalami kisah cinta yang menyebalkan. Sedangkan hidup percintaan Rinto tentu saja sangat berbeda dengan yang dialami Liana. Dengan segala hal yang dimilikinya; tubuh tegap setinggi 180 sentimeter, wajah tampan, hidung mancung, serta otak cerdas, menjadikan sosok Rinto layak menjadi idaman wanita.

Terlalu mudah jatuh cinta, itu kesalahan Liana selama ini. Liana sangat mudah jatuh cinta pada seseorang jika bertemu dengan orang yang dia nilai berhasil membuat jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Tetapi selama ini Rinto selalu merasa ada yang salah dengan jantung Liana, karena jantung menyebalkan itu terlalu sering berdetak cepat, dan detakannya itu selalu untuk orang yang salah!

“Gue harus nikah tahun ini,” kata Liana dengan nada murung. “Gue harus menikah sebelum angka depan usia gue berubah.”

Kalimat itu harusnya dikatakan Liana dengan penuh tekad, tapi sayangnya Rinto justru mendengar nada pesimis. Rinto hanya menghela napas panjang untuk perkataan Liana itu.

Perjodohan demi perjodohan telah dilewati Liana. Namun tidak ada satu pun yang berhasil. Hingga suatu hari …

Liana bertemu Dimas, kopilot di maskapai penerbangan ternama. Ada debaran halus yang menyenangkan terasa memenuhi dadanya ketika bertemu pria itu. Kali ini, Liana yakin akan berhasil menjalin kisah cinta sempurna bersama Dimas.

Namun fantasi terganjal oleh sahabatnya sendiri, Rinto.

Akankah Liana berhak mendapatkan kisah cinta sempurna seperti yang selalu ditulis dalam novel-novel larisnya? 
          
Kalimat Favorit

…, secantik-cantiknya mutiara kalau cuma disimpan di kotak, nggak bakal ada yang lihat kecantikannya (Forever with You, hal 35).

Jangan membuat dirimu tidak nyaman hanya untuk menjadi seperti orang lain (Forever with You, hal 191).

Jika kita mencintai seseorang dengan tulus, maka akan selalu ada kata maaf untuk semua kesalahan yang dia lakukan, karena akan lebih baik menerima kembali cinta yang pernah menyakiti itu dan mencoba meraih bahagia dengan cinta yang sama, ketimbang melepaskan cinta itu untuk lebih menyakiti diri (Forever with You, hal 266).

Terkadang saat mencari cinta yang sempurna, kita tidak menyadari sebenarnya ada cinta luar biasa yang ada di dekat kita (Forever with You, hal 268).

Tanpa batas usia, siapa pun berhak memimpikan ketulusan cinta dalam hidupnya. Tidak ada usia kadaluarsa yang mengharuskan mereka untuk berhenti bermimpi dan berharap atas cinta, karena di saat yang tepat cinta akan menemukan mereka (Forever with You, hal 268).  

Review Saya

Gue banget! Dua kata yang terlontar ketika membaca kisah demi kisah yang dituliskan dalam novel ini. Tampak sekali penulis menguasai materi yang menjadi pokok permasalahan, melajang di usia “kadaluarsa”. Penulis mampu menceritakan adegan demi adegan dengan baik. Terkesan alami.

Novel ini benar-benar melalui proses editing yang penuh ketelitian, nyaris tidak ada typo. Hanya menemukan satu. Sehingga saya bisa menyelesaikan novel hingga lembar terakhir dengan nyaman.
       
Pesan Moral

Novel ini mengingatkan saya bahwa saya “tidak sendirian”. Masih banyak orang-orang di luar sana yang memiliki kisah hidup seperti saya. Intinya harus ada keyakinan bahwa di waktu yang tepat, cinta akan datang.

Dua. Jangan suka menilai rendah diri sendiri. Dengan begitu, kelebihan-kelebihan yang ada dalam diri kita justru tertutupi. Dan akhirnya kita akan selalu menjadi orang yang tidak percaya diri.
Dan yang ketiga, ini khusus diperuntukkan bagi pembaca yang sudah mempunyai pasangan. Ketika sahabat, sepupu, tetangga, atau siapa pun di sekitar kamu yang masih melajang di usia “kadaluarsa”, hindari untuk melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang justru akan membuat saya mereka semakin tertekan. Karena jodoh bukan manusia yang mengatur. Harusnya pertanyaan itu ditujukan kepada Sang Pemilik Kehidupan bukan malah kepada mereka. Dari pada semakin memperkeruh masalah, mending mendoakan agar mereka segera mendapatkan cinta di saat yang tepat. Aih, kok saya malah kebablasan curhat *ditimpuk sandal jepit* HAHAHA. 

Kesimpulan

Di luar adanya kesamaan kisah hidup, secara keseluruhan, saya suka dengan novel ini.  Saya memberi rating: 





Salam cinta,
~RP~       

Tidak ada komentar:

Posting Komentar